Qurroti A'yun's Blog

Mari ekspresikan dirimu bersamaku !

Dialektika Islam vis a vis Barat February 20, 2008

Filed under: Agama,Ekonomi,Opini & Artikel,Sosial Politik — aaxu @ 11:50 am

Oleh: Qurroti A’yun*)

Kalau ada yang mengatakan bahwa Islam saat ini telah “kehilangan” peradapan maka itu adalah ungkapan yang benar. Fenomena modernisasi telah membawa dampak cukup serius dalam tatanan kehidupan umat beragama, khususnya bagi agama Islam. Sejatinya peradapan adalah tonggak kemajuan suatu bangsa. Jika Barat telah membuat rancu dalam mendefinisikan peradapan sebagai sebuah nilai budaya atau perkembangan sains dan teknologi saja maka Islam secara lugas menegaskan bahwa sebenarnya peradapan memiliki makna yang utuh. Yaitu satu kesatuan yang berkomposisikan nilai-nilai budaya, intelektual, dan moral suatu bangsa.

Tanpa disadari secara pasti arus globalisasi telah berhasil mengkebiri tradisi, nilai-nilai dan ritual keagamaan umat Islam. Sangat disayangkan kemodernan yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih justru  menimbulkan krisis kemanusiaan. Dimana secara terbuka nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut bertentangan dengan nilai-nilai agama. Nilai-nilai agama menjadi tidak akut lagi dalam nuansa kebangsaan saat ini. Pasalnya,  kehadiran modernisasi yang mentuhankan sekulerisme telah membawa pengaruh negatif terhadap tatanan kehidupan umat beragama. Khususnya dalam mengekspresikan kualitas keberagamaan antar pemeluk yang bervariasi.

Kalau kita menengok kembali ke belakang, rekaman sejarah masa lalu mencatat bahwa sesungguhnya para pemikir Islam (ulama) dengan sejumlah maha karyanya adalah pencetus ilmu pengetahuan sekaligus mampu menorehkan ilmu pengetahuan sebagai sumber peradapan bagi kehidupan manusia. Terbukti pada abad pertengahan para ilmuan muslim sudah mampu menghasilkan sejumlah karya ilmiah, diantaranya seperti Ibnu Haitam, al-Biruni, al-Khawarizmi, Ibnu Rusyd, Ibnu sina, al-Razi, al-Tusi dan lain sebagainya.

Ironisnya, masa keemasan Islam pada waktu itu tidak bertahan lama. Pada era sesudah itu umat Islam harus meratapi kemunduran akan pemikiran berbasis rasional. Kecenderungan umat Islam dalam mengkaji nilai-nilai spiritual sebagai acuan terpenuhinya kepuasan ruhaniah mereka menjadi pemicu utama merosotnya kinerja para intelektual muslim pada masanya. Akibatnya pengembangan aspek intelektualitas-rasionalitas menjadi terabaikan.

Cabang-cabang ilmu keislaman mampu menyedot perhatian ketimbang ilmu-ilmu kealaman. Bersamaan dengan kondisi umat Islam yang tidak stabil ini, dunia barat malah sedang mengalami kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Jelaslah sudah jika umat Islam harus bertekuk lutut ketika harus menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan modern yang mengakibatkan terjadinya disintegrasi ilmu pengetahuan dan agama. Inilah kondisi umat Islam yang terjajah keilmuannya oleh Barat yang dimulai sejak itu, parahnya berlangsung hingga sekarang.

Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana caranya kita umat Islam mampu menjawab dan menyikapi arus negatif modernitas? Diakui atau tidak kemunculan modernitas telah membawa virus berbahaya ke dalam tubuh agama (Islam). Salah satunya adalah mendistorsi persoalan etika dan moralitas yang sangat dijunjung tinggi ajaran agama (Islam). Ini adalah pertanyaan besar yang ditujukan kepada kita semua sebagai umat Islam. Suatu tanggung jawab agama yang harus kita pikul secara bersama-sama. Karena memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah tugas setiap umat Islam.

Oleh karena itu, upaya menyandingkan teks agama dan nalar manusia menjadi agenda penting selanjutnya bagi umat Islam. Karena secara konseptual antara wahyu dan nalar adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Dalam hal ini, kita sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan berkewajiban untuk memaknai secara teologis teks agama dan nalar manusia ke dalam realitas ilmu pengetahuan.

Dalam konteks ini kita bisa mengambil tindakan dalam bentuk “Islamisasi sains”. Artinya dasar-dasar ilmu pengetahuan dalam ayat kauniyah dapat diejawantahkan menjadi sebuah epistemologi ilmu yang dapat diakses dan dikembangkan sesuai tingkat perkembangan zaman. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah kita harus memulainya dari mana? Langkah awal yang dapat kita lakukan adalah dengan cara menyambung rekaman sejarah lama umat Islam terdahulu sebagai warisan khazanah keilmuan kita bersama. Sejarah peradapan bukanlah hanya untuk dijadikan kebanggaan semata, tapi bagaimana kita mampu merekonstruksi kembali makna sejarah itu untuk kepentingan masa kini dan masa yang akan datang.

Harapan bersama lewat usaha ini kita dapat melepaskan kecanduan ilmu pengetahuan Islam dari jeratan sekularisme-modernisme. Sehingga tidak ada lagi dua aspek yang saling berhadapan yaitu ilmiah dan religius (Islam vis a vis Barat). Akan tetapi suatu pemahaman yang utuh atas kebenaran yang tunggal yaitu ilimiah sekaligus religius. Jangan biarkan kehidupan umat Islam tercabut dari prinsip-prinsip agama dan terpisah dari ilmu pengetahuan rasional.  Oleh karena itu, umat Islam harus menjaga pemikiran Islam agar tetap sesuai dengan realitas kehidupan manusia modern dan mampu merespon kebutuhan manusia modern dengan berdasarkan asas-asas keislaman.

*) Qurroti A’yun
Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Malang

 

6 Responses to “Dialektika Islam vis a vis Barat”

  1. Barat memang bukan Timur. Begitu pula sebaliknya. Namun perlu disadari bersama bahwa identitas Barat dan Timur sangatlah penuh dengan kepentingan. Kepentingan yang ada dalam diri manusia sebagai makhluk yang tidak pernah puas dengan apa yang telah ada. Persinggungan Barat dan Timur perlu dicermati bersama perkembangannya. Tidak hanya lantara kita ada di wilayah Timur – yang nota bene sebagai kelompok tertindas atas wilayah Barat sebagai kelompok penindas – jauh melebihi itu semua adalah demi terciptanya ketentraman abadi di seluruh penjuru dunia.

  2. ajidedim Says:

    kalau kata Islam, dalam maqashid asy-syariah yaitu mashlaha untuk semua. Atau dalam Qur’an, rahmatan lil ‘alamin. artinya, selama kepentingan masih ditujukan pada Yang Maha Agung, Islam akan tetap berada pada titik sentralnya, yaitu Allah SWT. Tetapi ketika Peradaban Islam berada pada titik kepentingan Islam (materi) an-sich, maka Islam akan hilang ruhnya, sama dengan Barat, untuk kepentingan Barat yang memang sekular, maka kepentingan ada pada peradaban itu sendiri…dan bukan Tuhan…

  3. ajidedim Says:

    kalau kata Islam, dalam maqashid asy-syariah yaitu mashlaha untuk semua. Atau dalam Qur’an, rahmatan lil ‘alamin. artinya, selama kepentingan masih ditujukan pada Yang Maha Agung, Islam akan tetap berada pada titik sentralnya, yaitu Allah SWT. Tetapi ketika Peradaban Islam berada pada titik kepentingan Islam (materi) an-sich, maka Islam akan hilang ruhnya, sama dengan Barat, untuk kepentingan Barat yang memang sekular, maka kepentingan ada pada peradaban itu sendiri…dan bukan Tuhan…

    http://ajidedim.wordpress.com

  4. Leil fataya Says:

    ya..ya..ya…sebenernya di indonesia sangat mengakar pada metode berfikir dialektis, yaitu musyawaroh tuk mufakat. jadi marilah kita mengarungi perbedaan untuk berlabuh pada hakikat kebenaran.

  5. doddi widodo Says:

    kalau boleh berkomentar dan berbagi pemikiran,
    setelah bangkitnya barat pada abad ke 16, yang notabene barat banyak menimba ilmu islam ( baca : system islam ) di spanyol, namun barat dengan liciknya malah mencaplok spanyol itu sendiri dan kesultanan-kesultanan ( negara-negara ) islam ex sempalan dari kekalifahan abbasiyah yang sudah tidak berdaya lagi setelah diserang oleh tentara mongol pada abad ke 13 termasuk indonesia, secara mudah, dengan terjajahnya bangsa-bangsa islam oleh barat ( baca : musuh islam ), ajaran islam secara cerdik, agresif dan leluasa system islam didekontruksi oleh barat, dan menjadi sekedar agama ritual sehingga islam tak berdaya sama sekali hingga sa’at ini, kenapa demikian ? pertama karena barat tahu betul kekuatan maha dahsyat dari system islam itu sendiri, kedua walaupun islam tidak berdaya sampai sa’at ini, namun barat sangat kuatir akan adanya kebangkitan islam, ketiga, perhatikan saja setiap ada geliat atau tanda-tanda islam akan bangkit, kaum orentalis, analis barat, dan agen-agen barat pada sibuk luar biasa.
    celakanya selama berabad-abad bangsa islam terbelenggu dan system islam ( agama, dien, cahaya, daya atau roh islam ) yang shahih tidak lagi dikenali lagi oleh pemikir islam ( ulama ) hingga sa’at ini, ( mohon ma’af ) faktanya islam belum juga dapat bangkit dan belum ada satupun negara islam yang begitu sukses dalam meng-operasionalkan system islam yang dapat diambil sebagai contoh, islam hanya difahami sebatas ritualitas dan seremonial belaka, dan secara ritual umat islam dengan istiqomah masih menghadapkan wajahnya masih ber kiblat ( standar ) mekah, namun ketika melaksanakan aktivitas yang ril diseluruh aspek kehidupan umat islam secara faktual banyak ber standar ( berhasil dipalingkan ) ke barat, bagaimana mungkin islam akan bangkit? dan menurut hemat ( pendapat ) saya islam hanya akan bangkit secara partial maupun serempak apabila :

    1. aktivitas ritual maupun aktivitas ril di seluruh aspek kehidupan sudah ber kiblat ( berstandar ) ke mekah seperti yang pernah diteladankan rasulullah ketika membangun madinah disegala bidang dengan system islam hingga madinah memiliki bargaining power diatas kompetitor ( pesaing ) utamanya penguasa kafir di mekah sehingga dengan mudah rasulullah dapat menaklukan mekah, sehingga kota mekah berkah dan rahmatnya mengalir terus ( sustain growth ) yang dijami tuhan hingga ahkir zaman nanti mungkin hal ini merupakan bukti nyata ke professionalan rasulullah yang ditidak dapat dibantah oleh siapapun, sehingga manusia berbondong-bondong masuk agama islam ( meng adopsi system islam / standar mekah ) tanpa paksaan.

    2. system islam ( agama, dien, cahaya, daya, atau roh islam ) yang berdaya dahsyat, yang telah diformulasikan oleh rasulullah secara tepat menjadi : iman ( knowledge > believe > faith ) , islam ( skill > competence > professional ) dan ihksan ( perfect > highest quality > very productive ) itu sudah difahami atau dapat diterjemahkan secara pas oleh para pemikir islam ( ulama ) dan menjadi sebuah system ( mesin peradaban yang berdaya akbar ) atau standar operating procedure baku yang dapat di operasionalkan diseluruh aktivitas ril ( amal soleh ) diseluruh aspek kehidupan, dan saya sangat yakin islam akan segera bangkit bisa mulai dari mana saja dan dimana saja ( dari diri anda sendiri, dari organisasi anda, dari korporasi anda, dari kota anda, dari negara anda dan keseluruh muka bumi tentunya ) sebagai satu-satunya alat ( system ) yang ter halal dan tanpa harus mengorbankan integritas untuk meraih rahmatan lil alamin.

    namun demikian saya sangat salut dan menghargai pemikiran dan keprihatinan anda sebagai seorang muslimah yang peduli terhadap kondisi islam yang sangat jauh terpuruk terhadap barat di era globalisasi dengan perubahan yang sangat cepat dan super kompetitive sa’at ini, dan saya sangat senang berbagi pengetahuan tentang keislaman dengan anda

    salam dan berfikirlah terus untuk islam dan kebahagian dunia

  6. Michael Tim Says:

    I love your site!

    _____________________
    Experiencing a slow PC recently? Fix it now!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s